Halaman

22 November 2010

Lelucon kematian

Malam tak bertepi
Siang tak berarti
Jiwa-jiwa putus asa berpesta
Setan-setan bertopeng manusia
Bersorak
Menyeringai
Menertawakan diri sendiri
Tanpa takut
Menantang lingkaran maut
Pertemanan bebas yang akut

Daun-daun setan, serbuk-sebuk maut, putung-putung berasap
(hilang semua sensasi)
Merintih…perih…
Ribuan luka menganga
Meronta, sakit tak teperi
Detak jam berhenti, mati
Lelucon kematian
Konyol
Banyol
Tolol

Nadiyatussilmi
SMPN 1 Ciawi

25 Oktober 2010

Arah Perubahan Perpres nomor 54 Tahun 2010


Sebuah solusi penyempurnaan PBJ, Perpres 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah telah memberikan arah yang jelas untuk berubah ke praktik yang lebih baik. Jika dicermati lekuk batang tubuh dan lampirannya maka dapat diungkap arah perubahan yang dihembuskan, yaitu:
A. Menciptakan iklim yang kondusif untuk persaingan sehat, efisiensi belanja Negara dan mempercepat pelaksanaan APBN/APBD (debottlenecking)
Sinyal tersurat yang merepresentasikan arah tersebut antara lain adalah:
1. Tata Cara Pengadaan dan Standard Bidding Document;
2. lelang/seleksi sederhana s/d Rp200 jt;
3. Pengadaan Langsung;
4. persyaratan pelelangan dipermudah; kontrakpayung;
5. ULP (Unit LayananPengadaan); dsb.
B. Memperkenalkan aturan, sistem, metoda dan prosedur yang lebih sederhana dengan tetap memperhatikan good governance
Sinyal tersurat yang merepresentasikan arah tersebut antara lain adalah:
1. menghapuskan metoda pemilihan langsung (kecuali pekerjaan konstruksi) menjadi pelelangan sederhana,
2. mendorong pelaksanaan e-announcement, e-procurement, e-catalogue, dsb
C. Memperjelas konsep swakelola
Sinyal tersurat yang merepresentasikan arah tersebut antara lain adalah:
1. penambahan pekerjaan yang dapat diswakelolakan,
2. mengusulkan SBK (standar biaya khusus) untuk swakelola
D. Klarifikasi Aturan
Sinyal tersurat yang merepresentasikan arah tersebut antara lain adalah:
1. jenis–jenis pengadaan;
2. besaran uang muka;
3. kelengkapan data administrasi;
4. penggunaan metode evaluasi;
5. kondisi kahar (force majeur);
6. penyesuaian harga (price adjustment); dsb
E. Mendorong terjadinya inovasi, tumbuh suburnya ekonomi kreatif serta kemandirian industry
Sinyal tersurat yang merepresentasikan arah tersebut antara lain adalah:
1. swakelola
2. metode sayembara/kontes untuk mendorong inovasi dan ekonomi kreatif
3. mengharuskan Pengadaan Alutsista TNI dan Almatsus Polri oleh Industri strategis DN,
F. Memperkenalkan system Reward & Punishment yang lebih adil
Sinyal tersurat yang merepresentasikan arah tersebut antara lain adalah:
1. mengupayakan insentif yang wajar kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)/anggota Unit Layanan Pengadaan (ULP);
2. memberlakukan jaminan sanggahan banding;
3. penegasan kapan aparat hukum seyogyanya masuk dalam kasus pengadaan
DAFTAR RUJUKAN
Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Bahan tayang sosialisasi Perpres 54 tahun 2010 tentang pengadaan barang/jasa pemerintah, LKPP, Jakarta, 2010

29 Juli 2010

RADIO TELESONIK


JAKARTA (Suara Karya): Suatu hari emak bilang sama Ucok. "Nak, kalau besok kau jadi orang kaya, emak cuma pingin dibeliin radio, biar emak bisa dengerin berita, lagu-lagu, dll," kata emak.
"Cuma itu mak? Itu mah gampang... kecil...!" kata Ucok.
Kemudian Ucok pergi merantau. Suatu hari Ucok pulang dari kota dan sudah jadi pejabat penting. Dia tidak lupa pesanan emaknya untuk membelikan radio.
"Mak.. mak, Ucok pulang. Ucok sudah jadi pejabat penting di negeri ini. Ini radio Telesonik untuk mak," katanya.
Emak pun menerimanya dengan bangga dan segera menyetel radio itu. Benar saja lagu-lagu langsung terdengar dari radio baru itu. Tak lama siaran berhenti dan penyiarpun mulai menyapa pendengar.
"Pendengar yang setia, Anda masih bersama kami Radio Republik Indonesia ...."
Si emak tersentak langsung bilang, "Kau pembohong nak, kau bilang radio Telesonik ternyata Radio Republik."

26 Juli 2010

BRAIN TUMOR


BRAIN TUMOR

Doctor: I regret to tell you that you have a brain tumor.
Mr. Bean: Yesss!!! (jumps in joy)
Doctor: Did you understand what I just told you?
Mr. Bean: Yes of course, do you think I'm dumb?
Doctor: Then why are you so happy?
Mr. Bean: Because that proves that I have a brain!

TANYAMU


TANYAMU

Kalau kau tanya apa itu cinta
Lihatlah dimataku
Cinta telah meninggalkan jejak cahaya disana
Kalau kau tanya kenapa bisa begitu
Jawabnya adalah kamu
Kalau masih ada pertanyaan kenapa harus kamu
Terus terang..
Aku tak tahu
Karena kata-kata
Tak sanggup lagi menenyampaikan isyarat hatiku
(untuk seseorang yang menatapku lembut dalam hening)

22 Juni 2010

nasehat agus pada pegawai pajak

Selasa, 22/06/2010 18:22 WIB
Nasehat Agus Marto Buat Pegawai Pajak
Irwan Nugroho - detikFinance

Jakarta - Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak sedang menjadi sorotan karena berbagai kasus penyelewengan yang dilakukan oleh para aparatnya. Menteri Keuangan Agus Martowardojo pun menyampaian nasihat dan imbauannya ke jajarannya di Ditjen Pajak.

Agus meminta supaya para pegawai pajak yang menjadi tulang punggung penerimaan negara, untuk bekerja sesuai azas dan taat kepada peraturan yang ada.

"Yang saya utamakan adalah kita harus bekerja taat asas. Jadi kalau kita kerja kita harus bisa memenuhi aturan yang ada dan kita tidak boleh melupakan integritas. Itu yang utama," tegas Agus saat ditemui di kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (22/6/2010).

Agus mengatakan, jika ada aparatnya yang melanggar hukum, dirinya tidak akan segan-segan memberikan sanksi yang berlaku.

"Tapi kalau sampai ada yang melanggar, mereka sudah tahu pasalnya. Kalau ada yang melanggar itu dihukum tapi kita juga melakukan pembinaan untuk peningkatan keterampilan dan etika daripada karyawan-karyawati supaya tetap baik," tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut Agus mengatakan, tahun ini penerimaan pajak agak pas-pasan sehingga perlu digenjot dengan mengurangi kebocoran-kebocoran yang ada.

"Jadi saya mesti hati-hati, penegakan hukum kita jalankan, memperbaiki sistem kita jalankan. Tetapi jangan sampai penerimaan negara meleset. Itu yang akan saya lakukan, tapi komitmen kita kalau ada yang bersalah kita tindak, tidak pandang bulu," tukasnya.
(dnl/qom)

19 Mei 2010

Control Activities


“Control activities” is the area that we as employees, managers, and caretakers of the University can directly influence. Control activities include a variety of policies, procedures, practices or processes that are designed to ensure that necessary actions are taken to enforce the policies established by regulators or management. Examples of these types of activities are as follows:
1. Activity reviews of operating reports should be performed on a monthly and/or quarterly basis.
This activity includes the monthly reconciliation of accounts that is defined in the policy specified in Section 6.10 para 1c of the FRS Department Manual. This process entails checking the FBM 090/091 and FBM095 to see if the transactions you requested have been recorded and in the right amount. It also means identifying transactions that were not authorized and contacting the appropriate office so the error can be corrected or investigated. Please note: For those departments that utilize an alternative accounting system (sometimes referred to as a shadow bookkeeping system), it may not be sufficient to review the activity in the alternative system as that data could be manipulated so as not to display certain activity. The comparison or review should always include the transactions recorded in the FRS system.
2. Performance reviews of accounts should also be performed at least quarterly.
This activity requires that the FBM 090/091 be reviewed to compare actual expenses vs. budget and to look for unusually high expenses in object codes. For example, in December which is 6 months into the fiscal year one would expect that 50% of the budget would be spent at this time. If a disproportionate amount of expenses (either high or low) have been incurred, then this may be an indication that something is occurring that was not intended. These transactions should be questioned and adequately explained.
3. Information processing includes activities like checking documents for accuracy, completeness and the proper authorization of transactions.
Before entry into an electronic system or submission of a form, the document should be reviewed for the attributes listed above. This will speed up the payment, reimbursement or recording of the activity and result in an efficient processing of the document.
4. Physical controls are essential for the adequate control of liquid type assets like cash, inventory or equipment.
These can take the form of secured (locked) locations for the storage of inventory or equipment, safes or vaults for the storage of cash and periodic physical counts of cash, inventory and equipment and the comparison of the value of those counts to the records.
5. Segregation of duties is one of the more important of this type of activity.
It provides for the division or segregation of duties among different people to reduce the risk of undetected errors or inappropriate actions. For instance, responsibilities for authorizing transactions, recording them, and handling the related assets are divided. The risks for smaller departments are significantly greater than larger departments due to the fact that there are fewer individuals to assign these responsibilities. Care must be taken to avoid improperly delegating responsibilities to one individual because this can create a situation whereby that one individual controls all aspects of a transaction – the purchase, payment and receipt of goods without any oversight. These are the major policies, procedures, practices and processes involved in control activities that can be used to help enforce and achieve departmental objectives.
Sumber data: http://www.fso.arizona.edu/internalcontrol/ControlActivities.pdf diakses pada tanggal 20 Mei 2010

18 Mei 2010

Jual Ginjal Demi Pertahankan Perpustakaan yang akan Digusur


Muhammad Aminudin - detikSurabaya

Perpustakaan milik Eko Cahyono
Malang - Sempat terbesit dalam pikiran Eko Cahyono (30), seorang pemuda lulusan sekolah dasar untuk menjual organ ginjalnya. Ide itu lakukan hanya untuk mempertahankan perpustakaan miliknya yang telah dirintis sejak 1997 lalu. Pasalnya, lahan yang selama ini berdiri bangunan perpustakaan 'Anak Bangsa' itu akan dijual oleh pemiliknya.

"Lahan ini saya gunakan tanpa sewa, hanya dipinjami. Karena ada konflik keluarga, pemilik akan menjualnya. Untuk mendapatkan lahan ini ide untuk menjual ginjal muncul dalam pikiran saya," kata Eko, saat ditemui detiksurabaya.com di perpustakaan 'Anak Bangsa' di Jalan Brawijaya, Desa Sukopuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Selasa (18/5/2010).

Pemuda yang masih membujang ini mengaku, ide menjual ginjal muncul setelah membaca sebuah artikel tentang seseorang di luar negeri menjual ginjalnya. Mengetahui organ tubuhnya dapat dijual, bungsu dari tiga bersaudara ini langsung menawarkan organ ginjalnya tanpa memasang tarif.

"Kalau tanah milik Pak Suyono ini tidak saya beli, 10 ribu anggota perpustakaan saya terancam tidak dapat membaca. Untuk itu dengan menjual ginjal, saya berharap dapat membeli lahan perpustakaan ini dibangun," ujarnya.

10 Mei 2010

Components of Enterprise Risk Management

Components of Enterprise Risk Management
Enterprise risk management consists of eight interrelated components. These are derived from the way management runs an enterprise and are integrated with the management process. These components are:
1. Internal Environment – The internal environment encompasses the tone of an organization, and sets the basis for how risk is viewed and addressed by an entity’s people, including risk management philosophy and risk appetite, integrity and ethical values, and the environment in which they operate.
2. Objective Setting – Objectives must exist before management can identify potential events affecting their achievement. Enterprise risk management ensures that management has in place a process to set objectives and that the chosen objectives support and align with the entity’s mission and are consistent with its risk appetite.
3. Event Identification – Internal and external events affecting achievement of an entity’s objectives must be identified, distinguishing between risks and opportunities. Opportunities are channeled back to management’s strategy or objective-setting processes.
4. Risk Assessment – Risks are analyzed, considering likelihood and impact, as a basis for determining how they should be managed. Risks are assessed on an inherent and a residual basis.
5. Risk Response – Management selects risk responses – avoiding, accepting, reducing, or sharing risk – developing a set of actions to align risks with the entity’s risk tolerances and risk appetite.
6. Control Activities – Policies and procedures are established and implemented to help ensure the risk responses are effectively carried out.
7. Information and Communication – Relevant information is identified, captured, and communicated in a form and timeframe that enable people to carry out their responsibilities. Effective communication also occurs in a broader sense, flowing down, across, and up the entity.
8. Monitoring – The entirety of enterprise risk management is monitored and modifications made as necessary. Monitoring is accomplished through ongoing management activities, separate evaluations, or both. Enterprise risk management is not strictly a serial process, where one component affects only the next. It is a multidirectional, iterative process in which almost any component can and does influence another.

Sumber: http://www.coso.org/documents/COSO_ERM_ExecutiveSummary.pdf

ICW: Ini Momen Tepat Susno Keluarkan 'Nuklir' Skandal Polri


ICW: Ini Momen Tepat Susno Keluarkan 'Nuklir' Skandal Polri
Laurencius Simanjuntak - detikNews

Jakarta - Pihak Komjen Pol Susno Duadji protes keras atas penangkapan yang dilakukan Polri. Momen ini dinilai tepat untuk membongkar sejumlah data terkait skandal di tubuh Polri yang dikantongi Susno.

"Susno harus lebih galak lagi. Susno harus melawan dengan mengeluarkan data-data yang pernah ia katakan. Ini waktunya Susno mengeluarkan 'nuklir' itu," kata Ketua Divisi Hukum dan Monitoring Peradilan ICW, Febri Diansyah, saat dihubungi detikcom, Selasa (11/5/2010).

Seperti diberitakan, sebelum lengser dari Kabareskrim, Susno pernah minta dibelikan tiga brankas besar untuk menyimpan data. Meski tidak mau mengungkap data apa yang disimpan, Susno mengatakan data itu akan jadi 'peluru' ketika ia terpojok.

"Susno juga bisa membuka rekening 15 pati Polri yang pernah disinggung waktu ia di PPATK. Jangan sampai jeruji besi menghalangi Susno," kata Febri.

Mengenai penangkapan Susno, Febri menilai hal itu menunjukkan respon berlebihan dari Polri. Alih-alih menyelesaikan masalah internal, penangkapan malah menimbulkan keraguan terhadap proses hukum yang dilakukan Tim Independen Polri.

"Masyarakat akan merasa takut jika mau melaporkan dan membongkar kasus serupa," pungkasnya.
sumber: http://www.detiknews.com/read/2010/05/11/080005/1354898/10/icw-ini-momen-tepat-susno-keluarkan-nuklir-skandal-polri?991101605